Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

abu, 01/02/2012 12:54 WIB

Tempat-tempat Banyak Kuman yang Sering Dikunjungi Anak

Adelia Ratnadita - detikHealth ;

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Orang tua biasanya khawatir mengenai tempat-tempat kotor yang dikunjungi anaknya. Karena biasanya di tempat-tempat kotor tersebut banyak kuman. Apalagi banyak tempat dan benda yang mengandung banyak kuman disekitar kita dan sering berkontak dengan anak-anak.

Kira-kira tempat dan benda apa saja yang banyak mengandung kuman?

Berikut 10 tempat dan benda yang sering berkontak dengan anak dan mengandung banyak kuman seperti dikutip dari WebMD, Rabu (1/2/2012) antara lain:

1. Gagang sikat gigi

Kloset yang dekat dengan tempat penyimpan sikat gigi, sangat memungkinkan sikat gigi dapat terkontaminasi bakteri. Maka sebaiknya jangan meletakkan tempat sikat gigi di dekat kloset, atau ditempat yang memungkinkan sikat gigi terkontaminasi percikan air dari kloset.

2. Area hewan peliharaan di rumah

Anak biasanya sering bermain bersama hewan peliharaan. Tetapi hewan peliharaan dapat mentransfer bakteri, virus, dan parasit untuk anak-anak melalui air liur atau bulu-bulu mereka. Anak-anak harus selalu mencuci tangan mereka setelah menyentuh hewan peliharaan atau bermain dengan hewan peliharaan.

3. Halaman belakang

Jangan biarkan anak bermain di halaman dengan kotoran hewan. Pastikan anak telah vaksin tetanus, sehingga setiap luka atau goresan terlindung dari tetanus.

4. Kulkas

Salmonella, campylobacter, dan norovirus, yang dapat menyebabkan sakit perut dan diare, adalah bakteri yang sering berada di dapur dan kulkas. Untuk menghindari kontaminasi, maka sebaiknya secara rutin mencuci dan mendisinfeksi dinding dan rak kulkas.

5. Lingkungan hewan

Kebun binatang dan peternakan merupakan tempat yang memungkinkan anak-anak bisa dekat dengan binatang, serta tempat yang bagus untuk belajar. namun, di tempat-tempat tersebut anak-anak juga sangat mungkin terkontaminasi bakteri. Anak-anak harus mencuci tangan setelah menyentuh hewan dan berada di lingkungan hewan.

6. Lantai

Dengan tumpahan makanan, lemak, dan lalu lalang manusia dan hewan peliharaan, lantai bisa menjadi tempat kotor untuk bermain. Karpet dan lantai dapat dihinggapi tungau, jamur, partikel makanan, kotoran luar, dan bahkan potongan serangga. Partikel-partikel tersebut dapat memicu alergi dan serangan asma.

7. Genangan air

Genangan air merupakan tempat yang menggoda untuk bermain anak. Genangan air juga merupakan tempat berkembang biak bagi jamur, bakteri, dan serangga seperti nyamuk, yang bisa menularkan virus dan penyakit lainnya.

8. Sekolah

Bagaimanapun sekolah merupakan tempat umum, yang terdapat banyak kuman. Sebuah studi tahun 2006 di dua sekolah Michigan menemukan kuman sekitar 800 kali lebih banyak untuk air mancur daripada dudukan toilet.

9. Tempat bermain

Tempat penitipan anak dan tempat bermain, terutama tempat dengan fasilitas taman bermain dan peralatan bermain, dapat merupakan tempat bagi penyebaran bakteri seperti MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus). Bakteri S. aureus dapat memasuki tubuh lewat luka terbuka.

10. Mall

Mall juga merupakan tempat umum yang memungkinkan terkontaminasi banyak kuman. Hasil studi menunjukkan rel eskalator, tombol lift, kontroler permainan video, dan ATM merupakn tempat yang tidak dibersihkan secara teratur, sehingga banyak kuman yang berada disana. Sehingga setelah mengunjungi tempat umum, sebaiknya segera mencuci tangan.

(del/ir)

Senin, 13 Juni 2011

Tauge Dipastikan Sebagai Sumber Wabah E. Coli

Tauge Dipastikan Sebagai Sumber Wabah E. Coli

Minggu, 12 Juni 2011 14:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Pejabat-pejabat Eropa mengukuhkan tauge sebagai sumber wabah bakteri E. coli yang menelan korban tewas di sana. Pihak berwenang hari Sabtu mengatakan tauge yang tercemar itu berasal dari pertanian organik di Jerman utara, dekat Hamburg.

Mereka mengatakan hasil tes laboratorium menunjukkan tauge atau kecambah dari pertanian itu mengandung jenis bakteri yang menyebabkan penularan itu. Pertanian tersebut telah ditutup oleh petugas kesehatan masyarakat.

Setidaknya 33 orang tewas dan sekitar 3.000 lainnya jatuh sakit sejak wabah itu merebak bulan lalu. Kecuali satu orang, semua korban tewas dan mayoritas mereka yang tertular berada di Jerman.

Pejabat-pejabat kesehatan semula menuding penularan bakteri itu dari mentimun dan sayuran lain dari Spanyol. Tudingan lalu meluas ke negara-negara Eropa lain, menyebabkan petani Uni Eropa rugi jutaan dolar karena hasil produksi mereka dibiarkan membusuk di ladang maupun gudang-gudang. Rusia, salah satu pasar terbesar sayuran Uni Eropa, semula melarang impor dari Eropa, tapi hari Jumat menyatakan akan mencabut larangan itu.

Pihak berwenang Jerman mencabut larangan makan tomat, mentimun dan selada hari Jumat tapi menyatakan krisis tersebut belum berakhir dan orang-orang sebaiknya tidak makan tauge.

Rusia tidak menyatakan kapan akan memulai lagi impor sayuran dari Uni Eropa. Pejabat-pejabat Rusia mengatakan itu akan tergantung seberapa cepat Uni Eropa akan mengirim dokumen-dokumen yang menjamin keamanan sayuran itu. Uni Eropa berjanji akan mengirim dokumen itu dalam dua hari ke depan.



Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Voanews.com

Kasus susu bakteri, IPB TIDAK lempar batu sembunyi tangan

Sri Estuningsih (Estu) awalnya berburu bakteri dalam susu formula untuk penelitian doktoral saat menempuh pendidikan bidang Mikrobiologi dan Patologi di Justus Liebig Universitat, Gieben, Jerman.

Penelitian yang awalnya mencari penyebab diare pada bayi, dengan fokus pada Salmonella, Shigella dan E. Coli sebagai bakteri penyebab diare, justru menemukan Enterobacter Sakazakii.

Enam tahun setelah penelitian dilaksanakan, Estu justru menghadapi tuntutan hukum. Adalah David Tobing, Pengacara Publik yang berturut-turut memenangkan tuntutan di level Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah 1ee8 Konstitusi (MK).

Isi tuntutan tersebut adalah agar Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Bpom) mengumumkan merek susu yang terpapar Enterobacter Sakazakii sesuai penelitian Estu yang dilaksanakan mulai tahun 2003 itu.

Pasalnya, penelitian yang mulai dilakukan pada 2003 itu bukanlah penelitian survaillance, artinya peneliti tidak mendaftar seluruh merek susu yang beredar di pasaran, melainkan semata mencari bakteri yang terdapat pada susu.

Apabila merek susu diungkap, hal itu tentunya tidak adil dan diskriminatif karena sampel tidak mewakili seluruh jenis susu dan makanan bayi yang beredar dipasaran. Padahal E. Sakazaki adalah jenis bakteri yang dapat dijumpai di mana-mana, termasuk dalam usus manusia yang tidak sakit.

———

Penelitian yang awalnya dilakukan di Jerman tersebut sebenarnya menyoroti cemaran Salmonella, Shigella dan E. Coli berkaitan dengan diare pada bayi. Bukannya menemukan ketiga bakteri tersebut, Estu justru menemukan cemaran E. Sakazakii sebanyak 13,5%, atau ditemukan dalam 10 dari 74 sampel. Pada 2004 bakteri itu masih ditemukan dalam 3 sampel dari 46 sampel yang diteliti.

Penelitian yang sama pada 2006 justru menemukan kecenderungan yang lebih tinggi E. Sakazakii ditemukan dalam 22,73% sampel susu formula dan 40% sampel makanan bayi.

Dari hasil karakterisasi bahaya yang dilakukan dalam penelitian pada 2006, ditemukan bahwa E. Sakazakii dapat menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis. Karena dianggap berbahaya, pada 2006 hasil penelitian tersebut dilaporkan ke BPOM.

Penemuan itu menjadi pertimbangan bagi IPB untuk mengajukan ke BPOM agar Indonesia mengikuti aturan Codex Alimentarius Commission untuk membatasi kadar cemaran E. Sakazakii dalam susu formula, makanan bayi, serta barang konsumsi lain.

Selain itu pada saat itu pihak IPB berharap agar BPOM dapat melakukan penelitian yang lebih memadai, misalnya dengan metode survaillance agar dapat menyertakan keseluruhan merek susu formula dan makanan bayi yang beredar di pasaran.

Baru pada 2009 BPOM mengadopsi Codex yang mengatur cemaran E. Sakazaki. Bpom juga melakukan survaillance terhadap seluruh merek susu dan makanan bayi yang beredar di pasaran.

Survaillance terus berlanjut hingga saat ini, tetapi Bpom sudah tidak menemukan satu pun merek susu yang mengandung cemaran E. Sakazaki, paska adopsi Codex itu.

“BPOM adalah lembaga pengawas, kami tidak dapat melakukan pengawasan sebelum ada aturannya. Oleh karena itu Codex harus diadaptasi kemudian kami melakukan pengawasan terhadap susu yang beredar di pasaran mulai 2009, berdasarkan Codex” Jelas Kustantinah, Kepala BPOM.

Berdasarkan fungsi pengawasan itulah BPOM mengumumkan hasil penelitiannya terhadap berbagai susu yang ada di pasaran.

Sejak 2009 hingga kini Bpom telah meneliti 117 jenis susu di pasaran Indonesia yang kesemuanya aman dari E. Sakazaki.

Herry Suhardiyanto, Rektor IPB mengatakan untuk mengumumkan jenis susu yang aman dan tidak aman demi memenuhi kepentingan publik merupakan kewenangan Bpom, apalagi Bpom telah melakukan penelitian paling baru dari segi waktu serta mencakup seluruh jenis susu formula dan makanan bayi yang ada.

Apabila IPB terpaksa mengumumkan merek susu dengan cemaran E. Sakazaki berdasar hasil penelitian Estu, hal tersebut akan menyalahi prinsip keadilan dalam penelitian karena sampel yang digunakan belum mencakup seluruh sampel yang beredar di pasaran.

Padahal sampel yang tidak diteliti belum tentu terbebas dari cemaran. Hal ini tentu tidak adil dan mendiskriminasi pihak tertentu karena tidak seluruh sampel yang ada diteliti.

Sementara itu, kewajiban mempublikasikan isi penelitian sudah dilakukan IPB dan Estu melalui berbagai Jurnal Internasional. Hasil penelitian tersebut juga telah dipaparkan dalam pertemuan internasional tentang E. sakazakii yang diselenggarakan oleh WHO dan FAO di Roma, Italia pada 2006.

MENTERI KESEHATAN ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH MENGUNGKAPKAN PIHAKNYA TIDAK DAPAT MEMAKSA IPB UNTUK MENGUMUMKAN MEREK SUSU KARENA IPB ADALAH LEMBAGA INDEPENDEN YANG TIDAK MEMILIKI KEWAJIBAN MELAPORKAN HASIL PENELITIANNYA.

FASLI JALAL, WAKIL MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL JUGA MENGHARGAI SIKAP IPB UNTUK TIDAK MENYEBUTKAN MEREK SUSU YANG MENJADI SAMPEL PENELITIAN KARENA TELAH DIATUR DALAM KODE ETIK INTERNASIONAL BAHWA MEREK PRODUK YANG MENJADI OBJEK PENELITIAN TIDAK DISEBUTKAN.

SELAIN ITU DIA JUGA MENYATAKAN KEBEBASAN AKADEMIK DAN KEBEBASAN MIMBAR AKADEMIK SERTA OTONOMI KEILMUAN PADA PENYELENGGARA PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DILINDUNGI OLEH HUKUM SEBAGAIMANA TERCANTUM DALAM PASAL 24 UU NO 20 TAHUN 2003 MENGENAI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.

———-

Di Luar persoalan hukum, probabilitas infeksi oleh E. Sakazaki sangatlah kecil, terhitung hanya ada 48 kasus bayi yang terinfeksi selama 42 tahun dalam kurun waktu 1961-2003. E. sakazaki juga hanya berbahaya bagi bayi di bawah usia 28 hari, bayi yang lahir dengan berat badan rendah, prematur, serta bayi dengan human immunodeficiency virus (HIV).

Oleh karena itulah bayi baru lahir hingga usia enam bulan sangat disarankan untuk mengonsumsi ASI eksklusif. Akan tetapi jika harus ditambahkan dengan susu formula penyajiannya harus dipastikan higienis karena pencemaran E. Sakazaki tidak hanya terjadi dari bahan baku maupun pasteurisasi susu, tetapi juga ketika pembukaan kemasan susu hingga susu disiapkan.

E. Sakazaki sebenarnya mudah dilumpuhkan. Bakteri tersebut akan mati dalam 15 detik jika berada pada suhu 70 derajat celcius atau lebih. Penyajian susu pun harus diperhatikan, misalnya susu yang sudah dingin lebih dari dua jam sangat riskan terkena bakteri.

Jika penyajian makanan bayi dilakukan dengan mengikuti peraturan yang ada, maka infeksi bakteri tidak mungkin terjadi. Namun demikian, masyarakat sudah terlanjur resah, kerugian juga bisa jadi akan dialami oleh industri susu nasional, sementara pemerintah tak kunjung memberikan penjelasan memadai.

PIHAK PEMERINTAH, DENGAN BPOM DAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEBAGAI TERGUGAT, SEHARUSNYA MENGAMBIL LANGKAH UNTUK MULAI MENGEDUKASI MASYARAKAT, ALIH-ALIH BERSEMBUNYI DAN MEMOJOKAN PIHAK TERTENTU DI BALIK KEPUTUSAN HUKUM.

SELAIN ITU, JIKA DIBIARKAN BERLARUT, TUNTUTAN HUKUM INI DAPAT MEMICU KERESAHAN PENELITI SEHINGGA MEREKA ENGGAN BERKREASI DAN BERINOVASI MENGHASILKAN PENELITIAN. JIKA SUDAH BEGITU MAKA MASYARAKAT JUGA YANG DIRUGIKAN AKIBAT KEMANDEGAN ILMU PENGETAHUAN SERTA KESEHATAN DI INDONESIA.

Sumber: http://bisnis-jabar.com/berita/kasus-susu-bakteri-ipb-tidak-lempar-batu-sembunyi-tangan.html